Tapanuli Selatan, Kristara.id – Renungan Harian Penyuluh Agama Katolik pada Senin, 22 Juni 2026, mengangkat tema “Bertobat dan Percaya kepada Injil” yang bersumber dari Injil Matius 7:1-5. Renungan yang disampaikan oleh Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Tapanuli Selatan, Idola Agustina Elisabeth Sianturi, mengajak umat beriman untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui pertobatan dan perubahan hidup yang nyata.
Dalam refleksinya, Idola menegaskan bahwa kehidupan orang beriman tidak hanya diukur dari seberapa besar pengetahuan iman yang dimiliki, tetapi juga dari kesediaan untuk memperbaiki diri sebelum menilai atau menghakimi orang lain.
Pesan Injil Matius 7:1-5 mengingatkan umat agar tidak mudah menghakimi sesama. Sebaliknya, setiap orang diajak untuk terlebih dahulu melihat kelemahan dan kekurangan dalam dirinya sendiri sebelum menyoroti kesalahan orang lain.
Pertobatan Dimulai dari Diri Sendiri
Menurut Idola, semangat pertobatan merupakan bagian penting dalam perjalanan iman setiap orang Kristiani. Pertobatan bukan sekadar penyesalan atas kesalahan masa lalu, melainkan kesediaan untuk memperbarui cara berpikir, berkata, dan bertindak sesuai kehendak Tuhan.
Ia menjelaskan bahwa ajaran Yesus dalam Injil mengarahkan umat untuk memiliki kerendahan hati dan sikap reflektif. Dengan mengenali kelemahan diri sendiri, seseorang akan lebih mudah menunjukkan kasih, pengertian, dan pengampunan kepada sesama.
“Setiap orang dipanggil untuk terus memperbaiki diri dan menjadikan kasih Kristus sebagai dasar dalam membangun hubungan dengan sesama,” demikian pesan utama yang terkandung dalam renungan tersebut.
Membangun Kehidupan Iman yang Dewasa
Renungan ini juga mengingatkan bahwa iman yang dewasa ditandai dengan kemampuan untuk mengendalikan diri dari sikap menghakimi dan lebih mengutamakan introspeksi. Sikap tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan kehidupan yang harmonis, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun Gereja.
Melalui pertobatan yang terus-menerus, umat diajak untuk semakin percaya kepada Injil serta menghadirkan nilai-nilai kasih, keadilan, dan kerendahan hati dalam kehidupan sehari-hari.
Renungan harian ini menjadi pengingat bahwa panggilan untuk bertobat bukan hanya berlaku pada momen tertentu, melainkan merupakan proses sepanjang hidup yang membawa umat semakin dekat kepada Tuhan dan sesama.





